Kain Tenun Lombok

kain tenun lombok

Kain tenun Lombok merupakan salah satu produk unik yang diciptakan oleh tangan-tangan kreatif masyarakat suku Sasak. Kegiatan ini telah mereka lakukan sejak Negara Jepang masih menjadi momok yang menakutkan. “Ite nyesek lamun edak rue dengan jepang” (Kami menenun ketika orang-orang Jepang tidak sedang berada disini). Begitulah tutur salah satu penenun tua dari desa Perina yang ditafsir telah berumur lebih dari 80 Tahun. Pada zaman itu, bala tentara Jepang memang tidak berkenan jika pribumi berkembang. Barang siapa yang tertangkap tangan sedang menenun, maka hasil dan alat-alat tenun mereka disita. Zalim, bukan? Walaupun demikian, tekad dan bakat yang sudah mendarah daging terus menyeruak untuk menghasilikan sebuah karya yang indah.

Kain Tenun Desa Perina

kain tenun lombok

Adapun kain tenun yang diproduksi di Desa Perina berbeda dengan kain tenun yang ada di Desa Sukarara. Perbedaan ini dapat kita lihat dari segi motif, kegunaan dan cara pengerjaannya. Dilihat dari motif kain tenun Sukarara lebih cendrung memproduksi kain dengan motif benda visual semisal rumah adat, bunga, hewan, dan lain-lain. Hasil produksi kain tenun ini kita kenal dengan sebutan Songket. Pengerjaannya juga terbilang sangat rumit. Butuh waktu 2 minggu hingga satu bulan untuk mengerjaan satu bidang kain tenun. Sedangkan kain tenun di Desa Perina kami sebut dengan nama kain Sensek. Dalam penerjemahan kedalam bahasa Indonesia ‘Sensek’ artinya ‘Tenun’. Namun, ketika kita mendengar kata “Sensek”, maka akan terjadi pergeseran makna. Dimana kain Sensek berarti kain tenun yang terbuat dari benang dengan motif garis dan tidak memiliki motif seperti kain Songket pada umumnya. Pengerjaannya juga terbilang tidak terlalu rumit. 

Menurut pengakuan para penenun tua di Desa Perina, mereka hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menyelesaikan satu bidang kain dengan panjang rata-rata 4 meter. Dari segi kegunaan, kain Songket sering digunakan sebagai kostum adat, sedangkan kain Sensek biasa digunakan sebagai ikat pinggang oleh perempuan Sasak pada saat bekerja dan pasca melahirkan.

Pada zaman yang semakin modern ini, dapat dikatakan hanya tinggal segelintir orang saja yang masih tekun melakukan kegiatan ini. Hanya segelintir orang saja yang masih menjadikan menenun sebagai tali penyambung hidup mereka. Jika kita berbicara lebih spesifik tentang kerajinan kain tenun, maka desa Sukarara dalam hal ini mendominasi dengan angka 80% populasi sebagai penenun aktif. Namun, berbeda jika kita melihat dari kacamata statistik secara general. Adink salah seorang pelaku wisata di pulau Lombok menuturkan bahwa, “tidak lebih dari 5% masyarakat suku Sasak yang masih menekuni profesi sebagai penenun aktif”.

Festival Tenun

Berangkat dari presentase diatas, Najam selaku ketua remaja yang berdomisili di Desa Perina, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah mencetuskan ide brilian. Pada tanggal 15 Desesmber 2019 kemarin, Beliau dan kawan-kawan telah sukses melaksanakan kegiatan bertema “Generasi Penerus Tenun Desa Perina”.

Dalam kegiatan ini, Najam dan kawan-kawan mendatangkan penenun dari Generasi terakhir yang hanya tersisa 5 orang saja. Biar sedikit, suasana tetap asik! 

Para penenun yang memiliki power suara yang sedikit melemah dengan bangga mejelaskan basic menenun kepada para remaja yang hadir di acara tersebut. Pelajaran tenun di awali dengan cara duduk, mengikat tali pinggan, memasukkan benang dan menarik Berire.  Berire merupakan sebutan kayu yang digunakan sebagai alat untuk merapatkan susunan benang. Walupun terlihat sederhana dan mudah, para remaja terlihat kesulitan dalam mengerjakannya. Tidak sedikit peserta tertawa girang ketika mendapati dirinya salah dalam mengeksekusi instruksi dari penenun senior. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga dimeriahkan oleh beberapa pertunjukan budaya. Festival tersebut tambah semarak dengan lagu daerah, tari Presean dan pameran berbagai jenis jajanan khas Lombok.

Kegiatan yang terbilang sederhana ini mendapat respon positif dari Kepala Desa Perina dan semua kalangan masyarakat. Menurut Kepala Desa Perina (Maroan Hamdi) kegiatan ini sangat menginspirasi diri pribadi dan masyarakat. Beliau menghimbau untuk terus menjaga aset budaya yang hampir punah di Desa Perina. Beliau juga menginstruksikan kepada masyarakat khusunya pemuda untuk terus melaksanakan kegiatan serupa demi kelestarian budaya yang telah di wariskan oleh nenek moyang terdahulu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat